
Jakarta – Secangkir kopi sering menjadi pilihan untuk menemani pagi dan meningkatkan energi. Namun, penelitian terbaru menemukan adanya kaitan antara kebiasaan minum kopi dengan proses penuaan biologis pada tingkat sel.
Peneliti melihat hubungan konsumsi kopi dengan telomer, yaitu bagian ujung kromosom yang kerap digunakan sebagai salah satu penanda penuaan sel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kopi dalam jumlah tertentu berkaitan dengan telomer yang lebih panjang.
Meski terdengar menjanjikan, temuan tersebut belum berarti kopi terbukti dapat menghentikan proses penuaan. Studi yang dilakukan bersifat observasional sehingga hanya menunjukkan hubungan antara kedua hal tersebut.
Dikutip dari New York Post, berikut beberapa temuan yang perlu diketahui.
1. Kopi Dikaitkan dengan Penuaan Biologis yang Lebih Lambat
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal BMJ Mental Health mengamati hubungan antara konsumsi kopi dan sejumlah indikator kesehatan sel.
Salah satu yang diperhatikan adalah telomer. Bagian kromosom ini dapat memendek seiring bertambahnya usia dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk stres oksidatif dan peradangan.
Dalam penelitian tersebut, orang yang mengonsumsi kopi menunjukkan hubungan dengan karakteristik telomer yang lebih panjang. Temuan ini kemudian memunculkan dugaan bahwa kopi mungkin memiliki kaitan dengan proses penuaan biologis.
2. Antioksidan Kopi Diduga Berperan
Kopi mengandung berbagai senyawa bioaktif yang memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi. Senyawa tersebut diduga dapat membantu tubuh menghadapi stres oksidatif.
Stres oksidatif terjadi ketika jumlah radikal bebas lebih besar daripada kemampuan tubuh untuk menetralkannya. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada sel.
Meski demikian, mekanisme pasti yang menjelaskan hubungan antara kopi dan telomer masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
3. Tiga hingga Empat Cangkir Menjadi Jumlah yang Diamati
Dalam penelitian tersebut, konsumsi sekitar 3-4 cangkir kopi per hari dikaitkan dengan potensi manfaat pada indikator seluler yang diteliti.
Namun, angka tersebut tidak bisa langsung dianggap sebagai takaran yang wajib dikonsumsi semua orang. Kebutuhan dan toleransi terhadap kafein berbeda-beda.
Selain itu, jumlah kafein dalam satu cangkir dapat berbeda tergantung jenis kopi, metode penyeduhan, dan ukuran porsinya.
4. Lebih Banyak Kopi Belum Tentu Lebih Baik
Menambah jumlah kopi tidak otomatis membuat manfaatnya semakin besar. Konsumsi kafein berlebihan justru dapat menyebabkan sejumlah efek yang tidak nyaman pada orang tertentu, seperti jantung berdebar, gelisah, atau gangguan tidur.
Karena itu, temuan penelitian tidak seharusnya dijadikan alasan untuk meningkatkan konsumsi kopi secara berlebihan.
Orang yang sensitif terhadap kafein juga perlu mempertimbangkan waktu minum kopi agar tidak mengganggu kualitas tidur.
5. Kopi Bukan Obat Antipenuaan
Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa kopi dapat membuat seseorang awet muda atau memperpanjang usia.
Studi observasional hanya menemukan adanya hubungan antara kebiasaan minum kopi dan indikator tertentu yang berkaitan dengan penuaan biologis. Faktor lain seperti pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, kondisi kesehatan, serta gaya hidup juga dapat berperan.
Dengan demikian, kopi tetap sebaiknya dikonsumsi secara wajar sebagai bagian dari pola hidup sehat, bukan dijadikan sebagai “obat” untuk melawan penuaan.
