
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mentoleransi praktik tata niaga yang merugikan petani sawit. Amran memastikan perusahaan yang sengaja menekan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit akan menghadapi tindakan tegas karena berdampak langsung terhadap kesejahteraan jutaan petani di Indonesia.
Menurut Amran, di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah terus mengawal harga komoditas strategis. Tujuannya agar manfaat dari kenaikan harga komoditas di pasar dunia dapat dirasakan langsung oleh para petani di tingkat tapak.
“Harga sawit dunia mencapai sekitar Rp27 ribu per kilogram, sementara di Indonesia sempat berada di kisaran Rp14 ribu hingga Rp15 ribu. Ketika nilai dolar menguat, yang seharusnya menikmati keuntungan adalah petani sawit, petani kopi, petani kakao, dan petani kelapa. Tapi justru harga sempat turun. Ini ada apa?,” ujar Amran dalam siaran pers yang diterima, Rabu (15/7).
Amran mengungkapkan keprihatinannya saat mengetahui harga TBS sawit sempat mengalami penurunan. Ia mengaku langsung melaporkan kondisi tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto, bahkan saat dirinya masih berada di Tanah Suci.
“Kami ditelepon. Saya sampaikan, selesai berdoa kami langsung bekerja. Kalau ada perusahaan yang tidak menaikkan harga dan menyakiti petani, bila perlu kita tutup perusahaannya. Ini menyangkut kehidupan sekitar 15 juta petani sawit di seluruh Indonesia,” tegas Mentan.
Langkah cepat pemerintah tersebut diklaim mulai menunjukkan hasil positif. Setelah pengumuman penguatan pengawasan dilakukan, harga TBS berangsur pulih. Namun, Amran mengingatkan bahwa pemerintah tetap waspada terhadap pihak-pihak yang masih berupaya menekan harga secara tidak wajar.
“Alhamdulillah, setelah kita umumkan langkah pemerintah, harga langsung bergerak naik dan sekarang sudah mulai pulih. Tetapi saya ingatkan, masih ada yang coba-coba menurunkan harga lagi. Kalau ada, Satgas akan menindak tegas,” tuturnya.
Catatan Strategis: Keberhasilan pembangunan pertanian diukur dari meningkatnya kesejahteraan petani sebagai pelaku utama produksi pangan dan perkebunan. Pemerintah berkomitmen membenahi tata niaga agar nilai tambah komoditas dinikmati petani sekaligus meningkatkan devisa negara.
Lebih lanjut, Mentan menekankan bahwa sawit merupakan komoditas strategis nasional dengan nilai ekspor yang sangat besar. Optimalisasi potensi sawit dan perlindungan harga di tingkat petani menjadi kunci untuk meningkatkan nilai ekspor Indonesia secara signifikan.
“Kalau seluruh potensi sawit bisa dioptimalkan dan harga petani terjaga, nilai ekspor Indonesia akan meningkat signifikan. Karena itu pemerintah akan terus hadir memastikan petani memperoleh harga yang adil,” pungkas Amran.
