
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengoptimalkan operasi pemadaman kebakaran lahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah Jatiwaringin di Kabupaten Tangerang, Banten. Langkah taktis ini ditempuh dengan memperpanjang waktu kerja satuan tugas (satgas) darat hingga pukul 22.00 WIB.
Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB, Djohan Darmawan, menjelaskan bahwa upaya pemadaman kebakaran di TPA tersebut membutuhkan penanganan khusus. Hal itu dipicu oleh karakteristik material tumpukan sampah yang menyerupai lahan gambut, di mana bara api bersembunyi di bawah permukaan.
“Mulai hari ini, operasi pemadaman akan dioptimalkan hingga pukul 22.00 WIB untuk satgas darat. Tim Damkar dan Manggala Agni akan melakukan sistem injeksi dengan mesin untuk memasukkan air ke dalam tumpukan sampah,” kata Djohan di Jakarta, Selasa
Djohan memaparkan, metode injeksi bawah permukaan tersebut dikombinasikan dengan penyemprotan di atas permukaan oleh satgas darat. Sementara itu, satgas udara dikerahkan untuk melakukan pengeboman air (water bombing) guna mematikan kobaran api secara menyeluruh.
Kelancaran pasokan air untuk kebutuhan pemadaman darat maupun udara dilaporkan sangat terbantu berkat tersedianya fasilitas danau atau embung penampungan yang terletak di dekat lokasi kebakaran TPA Jatiwaringin. Keberadaan sumber air terdekat tersebut mempermudah helikopter pengebom air dalam pengisian ember (bucket) berukuran besar, sekaligus mempercepat distribusi pasokan air ke selang-selang pemadam di lapangan.
Dalam operasi taktis ini, penanganan area pemadaman di dalam TPA Jatiwaringin dibagi secara ketat menjadi tiga sektor operasional utama, yaitu sektor utara, tengah, dan selatan demi memudahkan koordinasi personel.
Kekuatan personel gabungan di lapangan diperkuat oleh unsur BPBD se-Tangerang Raya, BNPB, TNI, Polri, Satgas Manggala Agni Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, serta jajaran relawan kebencanaan.
Tim gabungan tersebut didukung penuh oleh armada peralatan berat di darat yang meliputi 19 unit mobil pemadam kebakaran, empat unit mobil tangki air, delapan unit ekskavator, serta delapan unit buldozer untuk mengurai material penimbun bara sampah.
“Peristiwa kebakaran lahan pembuangan akhir sampah Jatiwaringin hendaknya menjadi pembelajaran bagi pemerintah daerah lainnya untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026,” ungkap Djohan memungkasi penjelasannya.
