
Jakarta – Lemak babi mungkin selama ini lebih dikenal sebagai bahan masakan yang tinggi lemak. Namun, sebuah pemeringkatan makanan berdasarkan kandungan nutrisinya menempatkan lemak babi di antara 10 makanan dengan skor gizi tertinggi.
Hasil tersebut tentu menarik perhatian karena lemak babi bahkan berada di atas sejumlah makanan lain yang selama ini lebih dikenal sebagai sumber nutrisi. Meski demikian, posisi dalam suatu pemeringkatan gizi tidak otomatis berarti makanan tersebut paling sehat atau boleh dikonsumsi tanpa batas.
Dikutip dari Euro Meat, berikut beberapa fakta mengenai kandungan dan posisi lemak babi dalam daftar tersebut.
1. Masuk 10 Besar dalam Pemeringkatan Gizi
Dalam sebuah studi yang mengevaluasi 100 makanan mentah berdasarkan kepadatan nutrisinya, lemak babi tercatat berada di peringkat kedelapan dengan skor 74.
Posisi tersebut membuat lemak babi menjadi satu-satunya produk hewani yang disebut masuk dalam 10 besar pemeringkatan tersebut.
Penilaian seperti ini menggambarkan seberapa banyak zat gizi tertentu yang tersedia dalam makanan dibandingkan dengan kebutuhan harian. Namun, skor tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa makanan tersebut cocok dikonsumsi dalam jumlah besar.
2. Mengandung Asam Lemak Tak Jenuh
Salah satu komponen yang menjadi perhatian dalam lemak babi adalah asam oleat. Senyawa ini merupakan jenis lemak tak jenuh tunggal yang juga ditemukan pada minyak zaitun dan sejumlah sumber lemak lainnya.
Menurut data yang dikutip sumber tersebut, kandungan asam oleat pada lemak babi dapat mencapai sekitar 60 persen dari komposisi lemaknya, meski jumlahnya dapat berbeda tergantung jenis dan asal lemak.
Lemak tak jenuh tunggal umumnya dianggap sebagai pilihan yang lebih baik dibandingkan lemak jenuh jika digunakan sebagai bagian dari pola makan yang seimbang.
Namun, tetap perlu diperhatikan bahwa lemak babi merupakan bahan makanan yang padat kalori.
3. Bagaimana Jika Dibandingkan dengan Lemak Sapi dan Domba?
Lemak babi disebut memiliki komposisi asam lemak yang berbeda dibandingkan lemak sapi dan domba.
Proporsi lemak tak jenuh pada lemak babi dapat membuat karakteristik nutrisinya berbeda dari beberapa jenis lemak hewani lainnya. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan lemak babi mendapatkan skor cukup tinggi dalam pemeringkatan tersebut.
Meski demikian, klaim bahwa lemak babi secara keseluruhan “lebih sehat” daripada lemak sapi atau domba perlu dilihat secara hati-hati. Kesehatan suatu makanan tidak hanya ditentukan oleh satu jenis nutrisi, tetapi juga jumlah yang dikonsumsi dan keseluruhan pola makan.
4. Posisinya Berdampingan dengan Berbagai Makanan Bernutrisi
Dalam daftar tersebut, lemak babi memperoleh skor 74 dan menempati peringkat kedelapan.
Sebagai perbandingan, almond disebut memperoleh skor 97, sedangkan cherimoya berada di sekitar skor 96. Beberapa jenis ikan juga masuk dalam daftar makanan dengan kepadatan nutrisi tinggi.
Sementara itu, ikan kakap disebut berada di posisi ke-10 dengan skor 69.
Pemeringkatan ini menunjukkan bahwa kandungan nutrisi makanan bisa memberikan hasil yang tidak selalu sesuai dengan anggapan umum. Namun, skor tersebut sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya patokan ketika menentukan makanan yang paling sehat.
5. Tetap Perlu Dikonsumsi Secukupnya
Walaupun memiliki kandungan asam lemak tak jenuh dan mendapatkan skor gizi tinggi dalam penelitian tersebut, lemak babi tetap perlu dikonsumsi secara terbatas.
Lemak merupakan sumber energi yang padat kalori. Konsumsi terlalu banyak dapat membuat asupan kalori harian berlebihan dan pada akhirnya berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.
Selain itu, pola makan yang terlalu tinggi lemak tertentu juga dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, terutama jika tidak diimbangi dengan sayuran, buah, sumber protein yang beragam, dan makanan kaya serat.
Jadi, Apakah Lemak Babi Lebih Sehat dari Lemak Sapi?
Masuknya lemak babi ke dalam 10 besar makanan berdasarkan skor kepadatan nutrisi memang menarik. Kandungan asam oleat dan komposisi lemak tak jenuhnya menjadi salah satu faktor yang membuatnya mendapat nilai cukup tinggi.
Namun, hal tersebut tidak berarti lemak babi otomatis lebih sehat daripada semua jenis lemak hewani. Pemeringkatan nutrisi memiliki metode dan tujuan tertentu, sedangkan kesehatan seseorang dipengaruhi oleh keseluruhan pola makan, jumlah konsumsi, aktivitas fisik, serta kondisi tubuh.
Jika dikonsumsi, lemak babi sebaiknya tetap dalam porsi wajar dan menjadi bagian dari pola makan yang beragam.
