
Jakarta – Sebagian orang sering merasakan dorongan buang air besar (BAB) tidak lama setelah selesai makan. Kondisi ini ternyata merupakan reaksi alami tubuh dan bukan berarti makanan yang baru dikonsumsi langsung keluar melalui saluran pencernaan.
Mengutip LADbible, ahli gastroenterologi Dr. Joseph Salhab menjelaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan gastrocolic reflex atau refleks gastrokolik. Refleks ini merupakan mekanisme normal yang membantu sistem pencernaan bekerja setelah lambung menerima makanan.
Banyak orang mengira makanan yang baru disantap langsung melewati usus sehingga memicu BAB. Padahal, proses pencernaan membutuhkan waktu berjam-jam. Dorongan BAB yang muncul setelah makan sebenarnya berasal dari makanan yang telah lebih dulu berada di usus besar.
Saat makanan masuk ke lambung, organ tersebut akan mengembang karena terisi. Peregangan ini mengirimkan sinyal ke otak, kemudian otak merespons dengan merangsang kontraksi pada usus besar.
Kontraksi tersebut bertujuan mengosongkan sebagian isi usus agar tersedia ruang bagi makanan baru yang nantinya akan diproses. Inilah alasan mengapa sebagian orang merasa ingin BAB sekitar 20 hingga 30 menit setelah makan, meski makanan yang baru disantap belum selesai dicerna.
Penjelasan tersebut juga didukung oleh National Health Service (NHS) Inggris. Lembaga tersebut menyebut refleks gastrokolik sebagai respons fisiologis normal yang terjadi ketika lambung meregang setelah menerima makanan dan proses pencernaan mulai berlanjut menuju usus halus.
Beberapa jenis makanan maupun minuman diketahui dapat membuat refleks ini bekerja lebih kuat. Kopi dan makanan bercita rasa pedas, misalnya, mampu merangsang aktivitas saluran cerna sehingga dorongan untuk BAB dapat muncul lebih cepat.
Selama frekuensi BAB masih dalam batas normal dan tidak disertai keluhan seperti nyeri perut hebat, diare berkepanjangan, atau perubahan bentuk tinja yang mencolok, kondisi tersebut umumnya tidak perlu dikhawatirkan.
Namun apabila keinginan BAB muncul terlalu sering, disertai rasa sakit, perdarahan, atau gangguan pencernaan lainnya, pemeriksaan ke dokter sebaiknya dilakukan untuk memastikan tidak ada masalah pada sistem pencernaan.
