
TIDAK banyak yang membayangkan buah nipah bisa berpadu dengan kopi. Selama bertahun-tahun, tanaman yang tumbuh di rawa-rawa pesisir Aceh itu lebih sering dipandang sebagai bagian dari lanskap alam ketimbang komoditas bernilai ekonomi. Di tangan lima mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK), anggapan itu mulai berubah. Mereka meracik buah nipah dengan Kopi Arabika Gayo menjadi Nipharia, minuman yang menghadirkan rasa baru sekaligus mengangkat potensi lokal yang selama ini terpinggirkan.
Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh tidak saja membangun kemampuan akademik dan sumber daya manusia. Kampus negeri tertua dan terbesar di Provinsi paling barat Indonesia itu juga terus membina mahasiswa untuk berinovasi meningkatkan kreativitas. Di antaranya adalah sekelompok mahasiswa dari berbagai program studi yang kini telah berhasil melahirkan inovasi minuman fungsional berbasis kearifan lokal bertajuk “Nipharia”.
Produk Nipharia memadukan kualitas premium Kopi Arabika Gayo dengan buah nipah (Nypa fruticans). Nipah adalah tanaman khas rawa di kawasan pesisir Aceh, terutama wilayah rawa pantai Selatan Malaka. Selama ini, pemanfaatan tanaman nipah belum optimal dan sering kali hanya dibiarkan tumbuh liar tanpa sentuhan nilai tambah.
Inovasi ini tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga membawa misi sosial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Atas gagasan luar biasa tersebut, tim dari USK berhasil memperoleh pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 dari Kemdiktisaintek.
Ketua Tim Nipharia, Teuku Arief Kamilussyifak, menjelaskan bahwa ide bisnis ini berawal dari keprihatinan terhadap minimnya literasi gizi dan pemanfaatan buah nipah di kalangan anak muda. “Kami melihat ada kesenjangan antara kekayaan hayati di pesisir Aceh dengan gaya hidup urban modern. Nipharia hadir untuk mengisi celah tersebut,” ujar Arief pada Senin (29/6).
Profil Produk dan Keunggulan Nipharia
Nipharia dikemas dalam bentuk cold brew coffee yang dipadukan dengan sirup dan jeli nipah sebagai pemanis alami. Selain menyegarkan, minuman ini menawarkan profil rasa yang unik serta kaya akan serat, menjadikannya pilihan minuman fungsional yang sehat.
Detail Produk Nipharia:
- Bahan Utama: Kopi Arabika Gayo & Buah Nipah (Nypa fruticans).
- Format: Cold brew coffee dengan jeli nipah.
- Harga: Rp20.000 per botol.
- Kanal Distribusi: Kantin AAC USK, FEB USK, kedai kopi lokal, dan CFD Banda Aceh.
Dosen Pembimbing tim, Fakhri Ramadhan, mengungkapkan bahwa pengembangan produk dilakukan dengan pendekatan terstruktur. “Setiap tahapan, mulai dari pengolahan bahan baku hingga strategi marketing, telah kami rancang dengan matang. Kami ingin Nipharia tidak sekadar meramaikan pasar Food and Beverage (F&B), tetapi memberikan dampak nyata bagi ekosistem ekonomi daerah,” tutur Fakhri.
Validasi Pasar dan Dampak Berkelanjutan
Keberhasilan validasi pasar Nipharia telah teruji secara nyata. Dalam ajang Bhayangkara Fest baru-baru ini, seluruh stok produk yang dibawa habis terjual. Saat ini, produk telah didistribusikan secara luas di Kota Banda Aceh, mulai dari lingkungan kampus hingga ruang publik seperti Car Free Day (CFD).
Ke depan, Nipharia berkomitmen untuk memperkuat empat pilar utama:
- Elevasi Komoditas Pesisir: Menaikkan kelas buah nipah menjadi produk premium.
- Transformasi Gaya Hidup Sehat: Menyediakan alternatif minuman kopi berserat tinggi.
- Pemberdayaan Ekonomi: Melibatkan masyarakat lokal dalam rantai pasok bahan baku.
- Pelestarian Ekosistem: Mendorong perlindungan kawasan rawa melalui pemanfaatan berkelanjutan.
Inovasi ini lahir dari kolaborasi lintas disiplin ilmu di Universitas Syiah Kuala, yang terdiri dari:
- Teuku Arief Kamilussyifak (Manajemen)
- Zia Mahira (Manajemen)
- Muhammad Nabil (Manajemen)
- Muhammad Isra Aguza (Manajemen)
- Balqis Nabilah Putri (Teknologi Hasil Pertanian)
“Bisnis ini adalah wujud kontribusi kami terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Harapannya, Nipharia dapat menjadi pelopor pengembangan agroindustri berbasis bahan baku lokal yang mampu bersaing di pasar modern,” tambah Teuku Arief. (MR/I-1)
