MINIWEB — Harga emas Antam mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa 1 April 2025. Harga emas yang dijual oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau harga emas Antam mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah para angka Rp 1.826.000 per gram.
Hal yang sama juga terjadi pada harga buyback emas Antam. Harga buyback emas Antam cetak rekor termahal pada 1 April 2025 di angka Rp 1.678.000 per per gram. Harga buyback ini adalah jika Anda ingin menjual emas yang dimiliki, maka Antam akan membelinya di harga Rp 1.678.000 per gram.
Dikutip dari laman Logam Mulia, Rabu (2/4/2025), harga emas Antam telah berkali-kali mencetak rekor termahal pada tahun ini atau sejak awal Januari 2025. Di 2 Januari 2025, harga emas Antam dipatok Rp 1.524.000 per gram, sedangkan pada Selasa kemarin rekor terbaru harga emas Antam termahal di angka Rp 1.826.000 per gram.
Artinya, dalam 3 bulan harga emas Antam sudah naik Rp 302.000 per gram.
Sedangkan jika dihitung dalam satu tahun terakhir atau dari 1 April 2024 hingga 1 April 2025, harga emas Antam telah naik Rp 543.000 per gram. Tercatat harga emas Antam pada 1 April 2024 dipatok Rp 1.283.000 per gram dan pada 2 April 2025 mencapai Rp 1.826.000 per gram.
Sedangkan untuk hari ini, harga emas Antam dipatok Rp 1.819.000 per gram, atau turun Rp 7.000 dari rekor termahal yang dicetak kemarin.
Gerak Harga Emas Dunia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4721216/original/051913900_1705711229-fotor-ai-2024012073928.jpg)
Harga emas turun pada perdagangan hari Selasa karena aksi ambil untung. Namun meskipun turun, harga emas masih tetap mendekati rekor tertinggi. Seperti diketahui, harga emas dunia menyentuh rekor termahal sepanjang masa karena investor beralih ke aset safe haven menjelang pengumuman tarif besar-besaran oleh Presiden Donald Trump terhadap negara-negara yang memiliki ketidakseimbangan perdagangan dengan AS.
Mengutip CNBC, Rabu (2/4/2025) harga emas di pasar spot turun 0,3% menjadi USD 3.113,43 per ons, setelah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di USD 3.148,88 per ons pada awal perdagangan hari Selasa waktu setempat.
Sedangkan untuk harga emas berjangka AS ditutup 0,1% lebih rendah pada USD 3.146 per ons.
“Tidak mengherankan melihat sedikit aksi ambil untung, terutama mengingat pasar telah menjadi agak overbought. Saya tidak benar-benar melihat banyak perubahan dalam fundamental. Ini adalah badai yang sempurna untuk emas,” kata Wakil Presiden dan analis logam senior Zaner Metals Peter Grant.
Resesi AS
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4723189/original/060727400_1705921940-fotor-ai-20240122181141.jpg)
Pelaku pasar dan konsumen emas tengah menunggu rincian tarif yang direncanakan oleh Presiden AS Donald Trump, yang akan diumumkan pada hari Rabu waktu setempat. Washington Post melaporkan pada hari Selasa bahwa para pejabat Gedung Putih telah menyusun rencana untuk tarif sekitar 20% pada sebagian besar impor AS.
Emas, yang secara tradisional dipandang sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, menutup kuartal terkuatnya sejak 1986 pada hari Senin, dan naik lebih dari USD 3.100 per ons, menandai salah satu kenaikan paling signifikan dalam sejarah logam mulia tersebut.
Goldman Sachs menaikkan kemungkinan resesi AS menjadi 35% dari 20% pada hari Senin, dan mengatakan pihaknya memperkirakan lebih banyak pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve. Emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil tumbuh subur dalam lingkungan suku bunga rendah.
“Kami terus melihat harga emas bergerak naik sebagian karena meningkatnya kepemilikan emas oleh ETF yang didukung secara fisik dan pembelian bank sentral yang kuat,” kata manajer portofolio senior Sprott Asset Management Ryan McIntyre.
Secara teknis, Indeks Kekuatan Relatif (RSI) emas berada di atas 70, yang menunjukkan logam tersebut terlalu banyak dibeli.